Tradisi Mangrara Banua Toraja, Syukuran Rumah Tongkonan

- Advertisement -
Tradisi Mangrara Banua adalah satu di antara banyaknya budaya masyarakat suku Toraja, Sulawesi Selatan (Sulsel). Upacara adat ini masih sangat kental dilestarikan hingga sekarang.

Melansir Detiksulsel.com, Mangrara Banua adalah upacara syukuran kebiasaan masyarakat Toraja setelah menyelesaikan pembuatan rumah adat Toraja (tongkonan). Dalam acara ini biasanya digelar oleh satu rumpun atau silsilah keluarga yang digelar dengan meriah.

“Ini salah satu adat Aluk Todolo (orang terdahulu) Toraja. Sebagai bentuk kesyukuran kepada Tuhan atas terbangunnya rumah tongkonan,” kata salah seorang tokoh adat Toraja, Pong Datu.

Ada keunikan dan keistimewaan di balik tradisi Mangrara Banua ini. Setiap kali digelar, semua keluarga dari tongkonan bersukacita. Dapat diekspresikan dengan berbagai macam bentuk, pernak pernik yang menghiasi tongkonan, kostum yang digunakan tamu, tari-tarian yang dipersembahkan, hingga hewan yang disembelih.

Dalam pelaksanaannya, tradisi Mangrara Banua diikuti beberapa kegiatan seperti diawali dengan Ma’ Daga atau acara pesta yang biasanya diisi tari-tarian, kemudian Ma’ Pairu atau menjamu tamu, dan Ma’ Rumpung Bai atau kumpulkan babi untuk dibagikan ke tamu undangan.

“Biasanya itu 200 sampai 300 babi yang dikurbankan, satu kerbau. Ini untuk dibagi-bagi kepada tamu dan warga kampung,” ungkap Pong Datu.

Menurut Pong Datu, tujuan awal dari tradisi Mangrara Banua adalah upacara syukuran tertinggi rumah tongkonan. Namun sekarang, tujuannya untuk memperlihatkan strata atau kedudukan dalam suatu keluarga besar.

“Tapi bukan berarti strata rendah tidak bisa melakukan, bisa tapi biasanya babinya sedikit,” ucapnya.

Bagi masyarakat Toraja babi adalah hewan yang sangat berharga. Bahkan menjadi investasi saat ada prosesi adat seperti Mangrara Banua. Pong Datu menjelaskan dahulu sebelum ada uang, orang Toraja melakukan transaksi jual beli hanya menggunakan babi. Dia mencontohkan saat masyarakat Toraja hendak membeli sawah, dibayarkan menggunakan babi.

“Jadi memang babi dan Tedong (kerbau) itu disakralkan di Toraja. Karena orang terdahulu menggunakan babi untuk jual beli,” jelasnya.

BACA JUGA  Umat Hindu di Bontang Merindukan Pawai Ogoh-ogoh saat Perayaan Nyepi

Zaman sekarang disebutnya babi ini bisa menjadi investasi. Setiap ada orang yang melakukan pesta adat akan menggunakan babi. Sehingga, saat ada warga menyumbang babi kepada penyelenggara maka telah dianggap berkontribusi.

“Misalnya, kamu buat acara terus saya sumbang babi dua. Nah, saat saya nanti gelar pesta adat, ya kamu juga nyumbang dua babi begitu. Begini lah Toraja saling bantu membantu,” ujarnya.

Bagi masyarakat Toraja, adat syukuran Mangrara Banua menjadi sebuah pesta yang besar. Sehingga, tak jarang penyelenggara menggunakan biaya yang sangat besar pula untuk melaksanakan kegiatan ini.

Tradisi ini sudah ada sejak dahulu, namun sudah berbeda. Tradisi Mangrara Banua zaman dahulu berlangsung selama setahun, sedangkan saat ini hanya berlangsung selama 3 hari dan paling lama sebulan.

Tinggalkan Balasan

- Advertisement -

Must Read

Gaya Hidup

Alami Rambut Berminyak, Ketahui Cara Mengatasinya

Rambut berminyak sering kali terlihat kusam, mengilap, dan susah diatur. Hal ini tentu membuat Anda alami tidak nyaman dan terganggu. Namun, Anda tidak perlu...

Peristiwa

Toko Kue di Bukittinggi Terbakar, Kerugian Capai Rp 1,2 Miliar

Musibah kebakaran kembali melanda, Kebakaran menghanguskan toko kue Elna Cake and Bakery di Kota Bukittinggi pada Senin (23/5) dini hari. Kerugian mencapai miliaran rupiah. Peristiwa...

Hukum

Elon Musk Terlibat Kasus Pelecehan Seksual, Harga Saham Tesla Langsung Ambruk

Elon Musk diberitakan tersandung kasus pelecehan seksual terhadap seorang pramugari. Kasus yang menjerat orang terkaya di dunia ini membuat harga saham saham perusahaan produsen...