Terkait Hasil Autopsi Otak Brigadir J Pindah ke Perut, Ini Kata Dokter Forensik!

Kamaruddin Simanjuntak, Pengacara Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat (Brigadir J), sempat mengungkap hasil autopsi terkait otak jenazah Brigadir J sudah pindah ke perut. Pernyataan tersebut kemudian ramai disorot publik. Sebenarnya, seperti apa proses autopsi hingga bisa muncul temuan otak berada di perut?

Ahli kedokteran forensik dari Universitas Indonesia, dr Budi Sampurna, menjelaskan bahwa pada dasarnya, terdapat beragam cara dan kebiasaan dalam proses autopsi misalnya mengacu pada agama dan tradisi. Umumnya pada di Indonesia, jaringan tubuh dikembalikan ke tempat semula setelah autopsi.

Namun di sejumlah negara lain seperti Jerman, Amerika, dan Belanda, adalah lumrah jika otak diletakkan di area perut setelah autopsi. Tak lain, untuk mencegah rembes dari bekas potongan di tulang kepala ketika otak nantinya mencair.

“Kalau mereka itu selesai melakukan autopsi, otak itu tidak dikembalikan di kepala. Mengapa tidak dikembalikan di kepala? Karena kepala itu sudah dipotong tulangnya. Kalau otak itu nanti mencair, maka dia bisa merembes ke situ dan bisa keluar,” terangnya, Selasa (2/8).

“Oleh karena itu mereka mengatakan, kalau di kami, tidak kita masukkan kembali ke kepala tetapi kepala itu nanti sudah ditutup seperti kapas, atau ada khusus lah semacam kertas ditaruh situ. Kemudian potong lagi tengkoraknya dan boleh ditutup,” ujar dr Budi.

Lebih lanjut dr Budi menjelaskan di Indonesia, pemotongan tengkorak dilakukan dengan cara tertentu agar ketika otak dikembalikan ke area kepala dalam posisi tiduran, cairannya bisa tertampung.

“Kepala itu kan dipotong tulangnya. Cara memotongnya kalau di kita itu dibikin siku sehingga nanti waktu ditaruh lagi itu akan tetap dan bisa menampung otak pada waktu dia tiduran,” ujarnya.

“Kalau di negara lain tadi yang di Jerman, dia dipotongnya lurus saja begitu dari depan ke belakang seperti topi. Sehingga nanti kalau dikembalikan ke situ otaknya kemudian ditutup, maka si tulang ini kan geser-geser nih. Geser-geser itu bisa mengakibatkan otaknya yang nantinya menjadi cair itu akan menjadi keluar, rembes,” jelas dr Budi.

Ia menambahkan, setiap negara bisa memiliki tata cara berbeda terkait tata cara mengembalikan jaringan tubuh setelah proses autopsi. Hanya di beberapa negara, otak memang lumrah diletakkan di perut pasca autopsi untuk mencegah cairan merembes. (Kay)

Iklan 7

Tinggalkan Balasan

Must Read

- Advertisement -

Hot News

Jokowi soal Usul TNI Jabat di Kementerian: Kebutuhan Belum Mendesak

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan belum ada kebutuhan mendesak bagi pemerintah untuk menempatkan tentara di jabatan-jabatan kementerian atau lembaga negara. Hal ini disampaikan Jokowi merespons...

Gaya Hidup

5 Cara agar Tidak Cemas Berlebihan Menghadapi Masa Depan

Masa depan penuh dengan ketidakpastian. Kita tak bisa benar-benar tahu dengan pasti hal-hal yang akan terjadi di masa depan. Ada yang mungkin akan berhasil, tetapi...

Peristiwa

Seorang Wanita Ingin Bunuh Diri di Kupang Berhasil Digagalkan Warga

Seorang wanita ingin bunuh diri di Jembatan Liliba Kota Kupang pada Kamis (11/8/2022) namun berhasi digagalkan warga setempat. Warga yang melintas di Jembatan Liliba dan...

Hukum

Ferdy Sambo: Saya Meminta Maaf Beri Informasi Tidak Benar

Eks Kadiv Propam Polri Irjen Pol Ferdy Sambo meminta maaf kepada masyarakat luas dan pihak-pihak terkait yang terdampak masalah yang dihadapinya. Sambo mengakui telah...

Iklan 6