Pencabutan Larangan Joki Cilik Pacuan Kuda Didesak Warga Bima

Larangan joki cilik pada pacuan kuda di Bima oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) ditolak oleh sebagaian warga. Mereka mendesak bupati untuk mencabut larangan tersebut.

Akibatnya mereka melakukan aksi demonstrasi menolak larangan joki cilik itu di depan kantor Bupati Bima, Kamis (28/7/2022). Massa aksi yang berunjuk rasa itu meminta Bupati Bima, Indah Dhamayanti Putri untuk mencabut kembali larangan yang disampaikan melalui surat edaran (SE) dengan nomor 709/039/05/2022 mengenai eksploitasi anak tertanggal 9 Juli 2022 itu.

“Dalam edaran tersebut dengan tegas dinyatakan melarang penggunaan joki cilik dalam tradisi pacuan kuda. Kami menolak soal itu,” teriak koordinator aksi, Fahri dalam orasinya.

Menurut Fahri, pacuan kuda tersebut sudah menjadi tradisi sejak lama bahkan dikatakan sebagai warisan yang secara turun-temurun masih ada di Kabupaten Bima.

“Kebijakan menghapus atau melarang penggunaan itu sudah mencederai tradisi leluhur. Kalau alasannya karena joki cilik, apa masalah ini tidak bisa diatur, kenapa justru dihapus,” tegasnya.

Fahri juga menegaskan, pihak yang mempersoalkan hal tersebut sebagai praktik eksploitasi anak merupakan sikap diskriminatif terhadap budaya pacuan kuda di Bima.

“Itu adalah sikap yang keliru, jangan bertindak diskriminatif terhadap budaya pacuan kuda dan jangan memvonis kegiatan kami (pacuan kuda) merupakan kejahatan terhadap anak,” tutur Fahri.

Aksi unjuk rasa pecinta pacuan kuda Bima ini mendapat pengawalan ketat dari pihak kepolisian. Mereka meminta bertemu dengan Bupati Bima namun tak bisa ditemui. Massa aksi hanya diterima oleh Staf Ahli Bupati Bima, Iwan Setiawan.

Tuntutan massa aksi akan dikoordinir dan akan disampaikan oleh Staf Ahli Bupati Bima. Bahkan massa aksi akan dipanggil kembali untuk bicara soal tuntutan pada kemudian hari yang belum ditetapkan.

BACA JUGA  Tradisi Ritual Adat Acceraa Kalopoang Kerajaan Gowa

Sebelumnya, Kabag Prokopim Bima, Yan Suryadin membenarkan adanya surat edaran Bupati Bima tentang larangan joki cilik di kegiatan pacuan kuda.

“Ada surat edarannya, mulai diberlakukan sejak tanggal 9 Juli 2022,” kata Yan pada detikBali, beberapa waktu lalu.

Yan menegaskan, surat edaran itu dikeluarkan setelah beberapa pihak menyorot tragedi kematian joki cilik akibat kecelakaan ketika event pacuan kuda di Bima pada bulan Maret 2022 lalu.

“Menyikapi tragedi kematian joki cilik asal dusun Nggodo, Desa Ndadi Bou, Kecamatan Woha, Bima pada tanggal 9 Maret 2022 di arena pacuan kuda Panda Palibelo,” jelasnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Must Read

- Advertisement -

Hot News

Tragedi Kanjuruhan, Bintang Emon Singgung Tanggung Jawab Pihak Berwenang

Komika Bintang Emon menjadi salah satu dari sekian selebritis Tanah Air yang akui ikut merasa terpukul atas tragedi yang terjadi di Stadion Kanjuruhan, Malang,...

Gaya Hidup

5 Manfaat Masker Lemon untuk Wajah dan Cara Membuatnya

Masker lemon bisa menjadi salah satu pilihan masker alami untuk menjaga kesehatan kulit. Kandungan vitamin C yang tinggi membuat masker ini dipercaya dapat mencegah...

Peristiwa

Tragedi Kanjuruhan, Bocah 11 Tahun Ditinggal Orangtuanya Meninggal Terinjak

Pasangan suami istri (pasutri) bernama M Yulianto (40) dan Devi Ratna Sari (30) meninggal dalam tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang. Jenazah keduanya dimakamkan dalam...

Hukum

Diretas, Twitter Polsek Srandakan Cuit Tak Pantas soal Tragedi Kanjuruhan

Komentar tak pantas atau nirempati dari akun Twitter Polsek Srandakan, Kabupaten Bantul, terkait tragedi kerusuhan di Stadion Kanjuruhan, Malang, viral di media sosial. Akun Twitter...

Iklan3