Mengenal Tradisi Perang Pandan di Tenganan Pegringsingan Bali

Tradisi yang kembali digelar di Desa Tenganan Pegringsingan Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, Bali adalah perang pandan. Dalam pergelaran tradisi tersebut Masyarakat dan para wisatawan tampak antusias menyaksikan mekare-kare karena sudah 2 tahun lebih acara tersebut tidak digelar akibat adanya Covid-19.

Para peserta tampak bersiap memegang senjata berupa daun pandan berduri. Mereka juga dibekali dengan tameng. Setelah ada aba-aba dari tetua yang bertugas, dua peserta perang pandan maju ke medan laga. Keduanya lalu saling serang menggunakan senjata daun pandan.

Perang akan dihentikan saat salah satu peserta menyatakan menyerah atau ada yang mengalami luka akibat duri pandan. Usai saling serang, mereka kembali saling bersalaman. Senyum dan kegembiraan antarpeserta terpancar di arena tradisi mekare-kare.

Tamping Takon Betenan atau Bendesa Adat Tenganan Pegringsingan, I Putu Suarjana mengatakan, tradisi mekare-kare merupakan bentuk penghormatan terhadap Dewa Indra yang dipercaya sebagai Dewa Perang.

“Perang dalam hal ini bukan berarti perang melawan musuh. Tapi, sebagai bentuk penghormatan oleh para remaja putra. Sebab, merekalah yang nantinya akan bertanggungjawab terhadap keluarga dan desa,” kata Suarjana.

Pagi hari sebelum perang pandan digelar, remaja putra dan putri menghaturkan kelapa muda atau kuud ke puncak gunung yang ada di Desa Tenganan Pegringsingan. Setelah itu, remaja putra bertugas mencari daun pandan berduri yang akan digunakan sebagai sarana mekare-kare.

Sementara itu, remaja putri bertugas membuat boreh atau ramuan tradisional. Boreh itu nantinya diberikan kepada peserta yang mengalami luka-luka usai perang pandan. Menariknya, obat penawar tradisional itu mampu menyembuhkan luka akibat sayatan duri pandan.

“Bahan-bahan untuk membuat boreh atau obat penawar tersebut adalah kunyit, lengkuas, bangle dan juga cuka. Semua bahan tersebut dicampur jadi satu dan digunakan untuk mengobati luka yang dialami oleh para peserta setelah selesai melaksanakan tradisi mekare-kare atau perang pandan,” imbuh Suarjana.

BACA JUGA  Kalender Tradisional Tika yang Kini Mulai Langka di Bali

Setelah mekare-kare selesai dan peserta yang terluka mendapat boreh, prosesi dilanjutkan dengan megibung. Saat inilah masyarakat Desa Tenganan Pegringsingan makan bersama-sama sembari menikmati jajanan tradisional seperti sumping, pisang goreng, bantal, tape ketan, dan jajanan lainnya.

Suarjana menjelaskan, megibung adalah bentuk kekeluargaan. Megibung juga sebagai upaya agar peserta mekare-kare tidak saling dendam satu sama lain usai ‘berperang’.

“Ini kita siapkan supaya tidak ada dendam di antara para peserta. Karena mungkin saat melakukan tradisi mekare-kare atau perang pandan, ada semangat yang berlebihan. Jadi, kami menyiapkan jajanan untuk kemudian disantap bersama-sama sebagai bentuk rasa kekeluargaan,” kata Suarjana.

Untuk diketahui, mekare-kare atau perang pandan digelar setahun sekali oleh warga Desa Tenganan Pegringsingan. Adapun rangkaian mekare-kare tahun ini sudah dimulai sejak Rabu (1/6/2022) lalu, yaitu mamiut atau matur piuning di Pura Penataran Yeh Santhi.

Hal itu sekaligus untuk memohon restu bahwa masyarakat Desa Wisata Tenganan Pegringsingan akan kembali menggelar mekare-kare.

Tinggalkan Balasan

Must Read

- Advertisement -

Hot News

Pakai Sandal Jepit Saat Mengendarai Sepeda Motor Tidak akan Kena Tilang

Pengendara motor yang menggunakan sandal jepit dipastikan oleh polisi tidak akan ditilang. Namun, polisi akan terus mengimbau kepada pengendara motor agar tidak riding menggunakan...

Gaya Hidup

Ini Cara Hilangkan Bau Badan agar Tidak Insecure

Bau badan yang tidak sedap disebabkan oleh keringat yang bercampur dengan bakteri. Hal ini bisa diatasi dengan cara perawatan tubuh dan menghindari makanan atau...

Peristiwa

Geger! Mayat Tanpa Identitas Ditemukan Warga di Tepi Sungai Somber, Balikpapan

Warga kawasan Somber, Kecamatan Balikpapan Utara, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur dibuat geger dengan ditemukannya mayat pria tanpa identitas dengan posisi terlungkup di tepi sungai...

Hukum

Pelaku Tabrak Lari di Denpasar Meninggalkan Pelat Mobilnya

Pelaku tabrak lari seorang mahasiswi di kawasan Renon, Denpasar yang meninggalkan pelat mobilnya dilokasi kecelakaan diduga takut. Alasan tersebut terungkap setelah penyelidikan yang dilakukan...