Mengenal Tradisi Mekotek, Penolak Bala Saat Kuningan di Bali

Tradisi Mekotek di desa Adat Munggu, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali diadakan setiap enam bulan sekali, biasanya pada hari Raya Kuningan.
Dilansir dari DetikBali.com, tradisi ini dihadiri sekitar 3.000 warga yang tumpah ruah di sepanjang jalan Desa Adat Munggu untuk melakukan ritual tahunan sebagai penolak bala atau memohon keselamatan kepada Tuhan YME.
“Pukul 13.00 Wita, warga berkumpul di Pura Puseh Desa Adat Munggu untuk bersembahyang menghaturkan sesajen kepada tamiang kolem (diistanakan). Itu (tradisi) bukti riil bahwa waktu itu pasukan taruna Munggu berhasil mematahkan Blambangan,” ucap Jero Bendesa Adat Munggu, I Made Rai Sujana.

Menurut sejarah yang ia ketahui dari para leluhur, tradisi Mekotek sempat ditiadakan pada zaman Belanda. Karena pihak Belanda mengira masyarakat pada saat itu akan melakukan perlawanan.

“Karena memakai tombak dikira akan mengadakan perlawanan, sehingga beberapa kali tradisi Mekotek ini tidak dilaksanakan,” jelasnya.

Namun apa yang terjadi? Katanya, Desa Munggu diserang wabah penyakit dan sepuluh orang meninggal dunia. Berkaca pada peristiwa itu, diceritakan Sujana, nenek moyang Desa Adat Munggu melakukan negoisasi dengan pemerintahan Belanda, yang akhirnya diizinkan menggelar tradisi Mekotek.

Pantauan detikBali di lokasi, Desa Munggu mulai dipadati warga pada pukul 14.00 Wita. Bahkan pelajar kelas 6 SD terlihat mengikuti kegiatan ini. Salah satunya I Putu Rama Ari Renata (12), siswa kelas 6 SD 2 Munggu, asal Banjar Pengayehan. Ia mengaku baru pertama kali mengikuti tradisi Mekotek.

“Ya saya senang ikut tradisi ini, sebelumnya saya gak ikut, ya senang sekali sekarang bisa ikut,” ucapnya antusias.

Sekitar pukul 14.00 Wita, usai sembahyang para peserta yang terdiri dari anak-anak, remaja, dan orang tua mulai melakukan kirab menuju ujung batas jalan desa. Di ujung jalan dilakukan ritual Mekotek, di mana kayu yang dibawa masing-masing peserta yang rata-rata pemuda dan orang tua ini, disatukan hingga membentuk lingkaran.

BACA JUGA  Masyarakat Adat Kampung Cerekang Luwu Timur Menganggap Pisang Kepok Suci

Kemudian dua orang naik ke atas kayu dan melakukan peperangan yang ditopang oleh para peserta lainnya. Prosesi ini menandakan perayaan terhadap kemenangan yang diperoleh Puri Mengwi.

Sementara itu, diungkapkan Kepala Desa Munggu, I Ketut Darta, tradisi Mekotek dipercaya sebagai penolak bala karena jika tidak dilaksanakan maka akan terjadi grubug. Dalam rangkaian tradisi Mekotek, setelah berjalan di tapal batas, peserta diperciki tirta (air suci) oleh para pemangku dari sebelas pura, agar dijauhkan dari bala (penyakit).

“Perayaan ini pada akhirnya menjadi penolak bala. Kenapa kami menyatakan ini penolak bala, bilamana perayaan ditiadakan akan menjadi grubug (gering atau penyakitan) atau meninggal dunia, penyakitnya bisa cacar, demam tinggi seketika, akhirnya meninggal,” ungkapnya.

“12 banjar desa adat itu, kami mengelilingi desa namanya Ngerdhibuana sekitar 3-4 kilometer. Kemudian kembali berperang di perbatasan desa sebelah barat,” jelasnya.

Selama pandemi, imbuh Ketut Darta, peserta sempat dibatasi menjadi seratus orang. Namun sekarang tidak ada pembatasan karena pemerintah telah mengeluarkan pelonggaran kegiatan masyarakat.

Dari pantauan, saat tradisi Mekotek berlangsung, perhatian penonton sempat tertuju pada para pemuda yang Mekotekdi ujung desa persawahan. Pemuda ini bermandikan lumpur karena beberapa orang iseng hingga membuat mereka terjatuh ke sawah.

Tradisi Mekotek yang rutin diselenggarakan setiap enam bulan sekali, ternyata tidak selalu berjalan mulus. Pasalnya, kayu pulet yang digunakan dalam tradisi ini mulai sulit ditemui.

Seperti diungkapkan salah satu peserta, Made Rai Yasa (49), asal Banjar Sedahan, Munggu. Ia mengaku sudah sejak kecil memiliki kayu pulet sejenis tongkat setinggi kurang lebih empat meter. Namun, kalangan muda saat ini kesulitan mencari kayu pulet.

“Ya, kayu sulit didapat, ini jenis pulet, sangat sulit diperoleh, sangat langka. Anak muda kami nyari yang baru itu ada di luar Mengwi, ada di Kerambitan, Selemadeg,” ungkapnya.

BACA JUGA  Hutan Adat Rusak Akibat Pembukaan Lahan Sawit di Jayapura

Dikatakannya, anak muda sekarang menyukai kayu setinggi hingga 6 meter. Beruntung, ketika mencari dan hendak membeli kayu pulet ini, mereka justru diberi secara gratis.

“Iya, jadi kami nyari kayu pulet, tanya harga, waktu tahu buat Mekotek, dikasih gratis,” ungkapnya tertawa.

Tradisi Mekotek telah ditetapkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai Cagar Budaya Tak Benda pada tahun 2016. Tahun ini, tradisi Mekotek akan mendunia karena akan diperkenalkan ke peserta KTT G20. Mereka akan mendapatkan suvenir berupa video tradisi Mekotek.

“Ya nanti akan jadi suvenir peserta KTT G20 dan video penampilan tradisi Mekotek hari ini akan diputar pada KTT G20. Dua orang sudah mendapatkan undangan, termasuk saya. Kami akan paparkan di sana tradisi ini,” pungkas Jero Bendesa Sujana.

Tinggalkan Balasan

Must Read

- Advertisement -

Hot News

Pakai Sandal Jepit Saat Mengendarai Sepeda Motor Tidak akan Kena Tilang

Pengendara motor yang menggunakan sandal jepit dipastikan oleh polisi tidak akan ditilang. Namun, polisi akan terus mengimbau kepada pengendara motor agar tidak riding menggunakan...

Gaya Hidup

Ini Cara Hilangkan Bau Badan agar Tidak Insecure

Bau badan yang tidak sedap disebabkan oleh keringat yang bercampur dengan bakteri. Hal ini bisa diatasi dengan cara perawatan tubuh dan menghindari makanan atau...

Peristiwa

Dua Wakil Indonesia Juara MTQ Internasional di Amerika

Dua wakil Indonesia berhasil menyabet juara pada ajang MTQ The American International Tibyan Competition for the Quran and Its Recitations di Amerika pada Minggu,...

Hukum

Asyik Pesta Sabu, 5 Pria di Sumbawa Ditangkap

Pesta sabu yang diadakan oleh 5 orang pria berinisial AR (33) , YK (21), NF (22), EY (37) , dan SR (38) berhasil diketahui...