Mengenal Emmy Saelan, Pemberontak Garis Depan dari Sulawesi Selatan

Emmy Saelan adalah salah seorang pejuang wanita asal Sulawesi Selatan yang berperan dalam mempertahankan Republik Indonesia. Ia adalah sosok perawat yang turut berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Sulawesi Selatan pada tahun 1946 silam.
Melansir dari Detiknews.com, nama Emmy Saelan santer disebut saat Belanda ingin menguasai kembali Indonesia setelah kemerdekaan diproklamasikan secara nasional. Upaya Belanda itu terjadi sekitar tahun 1945-1949 melalui peristiwa agresi militer pertama dan kedua.

Dari upaya-upaya Belanda itu, maka lahirlah laskar-laskar perlawanan di berbagai wilayah. Di Makassar dan sekitarnya juga banyak. Anggotanya bisa siapa saja, baik pemuda, wanita, hingga bangsawan.

Emmy kemudian bergabung dengan Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS) di bawah komando Ranggong Daeng Romo pada tahun 1946. Hal ini dilakukan Emmy untuk melawan niat Belanda kembali menguasai Indonesia pada masa itu.

“Bentuk perlawanannya macam-macam. Terjun langsung ke dalam medan pertempuran, membantu pasukan yang bertempur langsung, menjadi mata-mata, dapur umum, persiapan-persiapan lainnya dan sebagainya,” tutur Sejarawan Universitas Hasanuddin (Unhas) Ilham Daeng Makkelo, Kamis (21/4/2022).

Dalam Jurnal Nasional berjudul “Emmy Saelan: Perawat yang Berjuang”, sejarah mencatat bahwa Emmy Saelan berperan dalam pemogokan “Stella Marris”. Aksi ini sebagai bentuk protes terhadap penangkapan Gubernur Sulawesi Sam Ratulangi.

Emmy lahir di Makassar pada 15 Oktober 1924, dengan nama asli Salmah Soehartini Saelan. Nama Emmy Saelan merupakan sapaan akrabnya. Selain sapaan terdapat sapaan lain yang melekat pada dirinya, salah satunya “Daeng Kebo”. Sapaan tersebut melekat pada diri Emmy lantaran ia memiliki kulit berwarna putih.

Sapaan lain yang melekat pada Emmy adalah Daeng Karo. Julukan ini merupakan nama samaran yang digunakan oleh rekan-rekannya dalam Kelasykaran Lipang Bajeng. Daeng Karo dalam bahasa Makassar berarti gesit atau cepat.

BACA JUGA  Maria Ozawa Ungkap Sisi Gelap Keterlibatannya pada Industri Film Panas Sejak Usia 18 Tahun
Mengutip penelitian Syahrir Killa pada tahun 1995 berjudul “Laporan Penelitian Sejarah dan Nilai Tradisional Sulawesi Selatan, Latar Belakang Perjuangan Emmy Saelan”, digambarkan bahwa dalam pergaulannya tidak pernah membedakan teman, dari semua lapisan masyarakat. Baik terhadap orang-orang kecil maupun orang-orang besar. Bahkan kehidupan sehari-harinya terkesan sangat sederhana. Padahal, ia berasal dari keluarga yang cukup berada.

Pejuang wanita asal Sulawesi Selatan Emmy Saelan mampu menempatkan diri dalam pergaulan dan tataran sosial masyarakat Makassar saat itu. Di sisi lain “penerimaan” masyarakat Makassar saat itu terhadap dirinya yang notabene “bukan warga asli” lebih dikarenakan ia seorang terpelajar. Selain itu, didukung juga kedudukan orang tuanya yang memiliki jabatan di pemerintahan kota saat itu, sebagai Pamong Praja.

Kepribadiannya juga diuraikan dalam sejarah Militer Kodam XIV Hasanuddin. Pada uraian itu, digambarkan bahwa sosok Emmy adalah gadis pintar, kalem, manis, dan selalu tersenyum. Dari matanya tercermin kejujuran dan keanggunan. Ia memiliki figur keibuan. Badannya tegap, kuat hampir gemuk tetapi atletis.

Ia digambarkan sebagai wanita yang pemberani tetapi tidak suka dipuji. Gerakannya lamban namun penuh siasat. Apapun yang dilakukannya selalu penuh pertimbangan dan perhitungan.

Pada Jurnal Nasional berjudul “Emmy Saelan: Perawat yang Berjuang” disebutkan bahwa semasa kecilnya, tercatat sebagai murid sekolah di Eerste Europesche Large School (semacam Sekolah Tingkat Dasar). Setelah lulus, Emmy melanjutkan pendidikannya ke Horge Burger School di Makassar, yang mana pada sekolah ini jarang sekali terdapat anak-anak pribumi sebagai siswa.

Hal ini dikarenakan akses pendidikan yang dibatasi pemerintah Hindia Belanda. Kalaupun terdapat pribumi yang bersekolah di Horge Burger School, mereka pada umumnya berasal dari anak-anak bangsawan kerajaan ataupun anak pegawai yang mempunyai hubungan tertentu dengan pemerintah Hindia Belanda.

BACA JUGA  Halimah Yacob Anak Penjual Nasi Padang Jadi Presiden di Singapura

Pada tingkatan sekolah ini, ia menempuh pendidikan hanya sampai kelas 4 (empat). Sebab di tahun 1942 Jepang telah menggantikan kedudukan bangsa Belanda yang berkuasa saat itu. Secara otomatis model pendidikan pun mengalami perubahan dan disesuaikan dengan model pendidikan Jepang.

Di tahun yang sama, Emmy Saelan kemudian melanjutkan pendidikannya di sekolah Cu Gakko (Setara SMA) dan berhasil menyelesaikan studinya selama setahun. Setelah menamatkan pendidikannya di sekolah Cu Gakko, ia mengajukan permohonan kepada pemerintah Jepang untuk melanjutkan pendidikan ke pulau Jawa. Sayangnya permintaan itu tidak diperkenankan oleh Jepang.

Pada akhirnya melanjutkan pendidikan di sekolah kursus tabib yang bertempat di rumah sakit Stella Maris. Pada sekolah tabib ini, ia mendapat pelajaran teoritis dan pelajaran praktis merawat orang sakit dari dokter-dokter Jepang.

Meskipun pembelajarannya menggunakan bahasa Jepang dan tulisan kanji (Jepang), tidak menyusutkan semangat Emmy Saelan untuk mempelajari ilmu kesehatan. Ia pun menghafal istilah-istilah yang menggunakan huruf kanji suatu istilah yang cukup sulit dipelajari.

Melansir penelitian Arsidah pada tahun 1998 yang berjudul “Peranan Emmy Saelan di Dalam Mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia di Sulawesi Selatan (1945-1947)”, saat penangkapan dan pengasingan Gubernur Sulawesi pada 5 April 1946 oleh Belanda, ia dan beberapa teman kerjanya menyatakan protes terhadap Belanda dengan melakukan aksi pemogokan.
Peristiwa tersebut membuat pihak rumah sakit melakukan pengamatan terhadap pegawai yang terindikasi pro-republiken. Menyadari hal Itu, ia memutuskan meninggalkan Stella Marris pada Juli 1946. Kemudian menyusul Mouwly Saelan ke Takalar, yang pada masa itu menjadi tempat pusat perjuangan para pemuda dalam mempertahankan kemerdekaan.

Kemudian tergabung dalam LAPRIS sebagai penanggung jawab dalam Bagian Palang Merah. Pejuang wanita asal Sulawesi Selatan ini kemudian merawat para pejuang yang terluka. Namun, tidak hanya merawat para pejuang yang terluka, Emmy Saelan juga berjuang dengan mengangkat sejata.

BACA JUGA  Ular Kobra Sepanjang 2 Meter Menghebohkan Warga Soppeng

Pada masa perjuangan itu, ia mendapatkan misi spionase, yakni bertolak ke Makassar untuk mencari informasi mengenai kekuatan lawan dalam hal ini KNIL/NICA. Peran ini diberikan kepadanya karena pernah bertugas di Rumah Sakit Stella Marris dan dianggap mengetahui seluk-beluk Kota Makassar.

Namun, saat menjalankan misi tersebut, posisi Emmy terbaca oleh pihak lawan. Kontak senjata pun tidak terhindarkan. Tepatnya pada tanggal 20 Januari 1947 posisi Emmy terdesak hingga ke daerah Tidung.

Keesokan harinya, 21 Januari 1947 posisinya terkepung oleh KNIL/NICA. Di dalam pengepungan tersebut, ia mengambil tindakan untuk tidak menyerah dan memilih melawan tentara KNIL/NICA dengan meledakkan granat. Di dalam peristiwa tersebut, ia pun gugur bersama para tentara KNIL/NICA yang mengepungnya.

Tinggalkan Balasan

Must Read

- Advertisement -

Hot News

Banjir Rob Kembali Rendam Pemukiman di Pekalongan

Peristiwa banjir rob yang kembali terjadi, Banjir terjadi di Kelurahan Tirto, Kecamatan Pekalongan Barat, Kota Pekalongan menerjang permukiman pada Rabu (24/5) pagi, sebelumnya sempat...

Gaya Hidup

Kenali Perbedaan Alergi Matahari dan Terbakar Matahari

Alergi matahari dan terbakar matahari terkadang sulit dibedakan karena gejala yang muncul hampir serupa. Padahal, keduanya disebabkan oleh reaksi yang berbeda pada kulit. Nah,...

Peristiwa

Kereta Api Babaranjang di Bandar Lampung Tabrak Minibus, Satu Orang Dilarikan ke RS

Peristiwa kecelakaan kembali terjadi, Satu unit minibus merk Toyota Hiace bernomor polisi (nopol) F 7202 WL tertabrak Kereta Api Batu Bara Rangkaian Panjang...

Hukum

Polisi Tangkap Pencuri Motor Ninja di Agam

Kasus pencurian sepeda motor kembali terjadi, Dua pencuri sepeda motor berhasil ditangkap oleh Jajaran Satreskrim Polres Bukittinggi. Kasatreskrim Polres Bukittinggi AKP Ardiansyah Rolindo mengatakan, ke...