Kalender Tradisional Tika yang Kini Mulai Langka di Bali

Kalender tradisional Bali di Museum Subak di Kabupaten Tabanan, Bali yang bernama Tika kini keberadaannya sudah langka. Tika hanya dimiliki orang tertentu yang memang memahami cara membacanya. 

Dahulunya, Tika dipakai untuk menentukan ala ayuning dewasa atau hari buruk dan baik. Ala ayuning dewasa inilah yang menjadi pedoman masyarakat Bali untuk memulai suatu kegiatan hingga sekarang. Entah itu kegiatan keagamaan, bertani, membangun rumah, memelihara ternak, hingga kegiatan sehari-hari lainnya.

“Seperti kapan hari baik membuat senjata, rumah, atau melakukan upacara,” jelas Kepala Museum Subak Tabanan, Ida Ayu Ratna Pawitrani.

Penggunaan Tika untuk menentukan hari baik dan buruk, cukup rumit dan hanya bisa dilakukan orang tertentu. Terutama orang-orang yang paham dengan wariga atau dasar kalender tradisional Bali, seperti pendeta Hindu, para raja, atau tokoh masyarakat.

“Mereka yang bisa baca atau paham saja yang bisa menggunakan karena perhitungannya rumit,” jelasnya.

Berdasarkan fungsinya, sambung Ratna, Tika memiliki beberapa variasi. Seperti yang dikoleksi di Museum Subak, yang berfungsi untuk kegiatan pertanian.

“Ada yang spesifik untuk pertanian. Jadi ada gambar jagung, padi, kuda, ayam, ikan, atau gambar lainnya,” imbuhnya.

Dari penelitian dan kajian yang dilakukan Dinas Kebudayaan Bali pada 2019, dijelaskan, Tika merupakan petikan-petikan wariga atau kalender tradisional umat Hindu di Bali, yang bersifat permanen dan menggunakan tanda, simbol, atau kode tertentu sebagai wakil salah satu wuku, wewaran, atau ingkel.

Wewaran berasal dari kata Wara, yang memiliki arti hari. Kemudian wuku merupakan sistem mingguan yang jumlahnya 30 dalam satu siklus. Masing-masing wuku dinamakan sesuai mitologi 27 raja dan dua ratu. Wuku dimulai dari Sinta sampai dengan Watugunung. Kemudian Ingkel artinya pantangan atau larangan untuk memulai, mengambil, memelihara, melakukan pekerjaan atau upacara, yang berhubungan dengan objeknya.

BACA JUGA  Tjahjo Pastikan Pelaksanaan WFH ASN Tak Ganggu Layanan Publik

Secara umum, bagian Tika terdiri dari kolom 30 wuku yang terletak di bagian atas. Kemudian di bagian samping terdapat delapan baris. Tujuh baris hari atau Saptawara dan baris kedelapan merupakan Ingkel. Kalender pada Tika tidak mempedulikan posisi astronomi. Meski demikian, penggunaannya tidak dapat dipisahkan dari penggunaan kalender Saka.

Bentuk Tika pun bervariasi, ada yang terbuat dari kayu, kertas, dan kain. Variasi ini juga bisa dilihat dari tulisan yang terpampang. Ada Tika yang hanya menggunakan simbol-simbol tertentu, ada yang hanya menggunakan suku kata atau alfabet, juga ada yang terdiri dari penggabungan simbol, suku kata, dan alfabet.

Tinggalkan Balasan

Must Read

- Advertisement -

Hot News

Pakai Sandal Jepit Saat Mengendarai Sepeda Motor Tidak akan Kena Tilang

Pengendara motor yang menggunakan sandal jepit dipastikan oleh polisi tidak akan ditilang. Namun, polisi akan terus mengimbau kepada pengendara motor agar tidak riding menggunakan...

Gaya Hidup

Ini Cara Hilangkan Bau Badan agar Tidak Insecure

Bau badan yang tidak sedap disebabkan oleh keringat yang bercampur dengan bakteri. Hal ini bisa diatasi dengan cara perawatan tubuh dan menghindari makanan atau...

Peristiwa

Putra Buya Arrazy Hasyim Tewas Tertembak di Tuban

Peristiwa naas terjadi, Seorang balita yang masih berusia 3 tahun tewas karena tertembak senjata api (Senpi) di Desa Palang, Kecamatan Palang, Tuban. Korban diketahui...

Hukum

Mobil Anggota DPRK Pidie Digelapkan IRT

Seorang ibu rumah tangga (IRT) berinisial YT, warga Gampong Benteng, Kota Sigli, ditangkap polisi Selasa 21 Juni 2022. YT ditangkap karena diduga menggelapkan mobil...