Kain Tenun Khas Jembrana, Mempertahankan Pewarna Alami

Kain tenun dari Bali memiliki ciri khas yang berbeda-beda, contohnya kain tenun cagcag asal Jembrana ini pembuatannya sama dengan daerah lain namun memiliki motif yang berbeda. Mereka masih mempertahankan teknik tradisional dengan menggunakan bahan alam.

Salah satu yang masih mempertahankan di Jembrana, perajin tenun cagcag Kembar Sari, Banjar Anyar, Desa Batuagung, Kecamatan Jembrana, Kabupaten Jembrana, Bali. Kelompok ini masih mempertahankan teknik tradisional juga menggunakan bahan alami dalam pewarnaan.

Menggunakan bahan alami dalam pewarnaan. Karena limbahnya lebih ramah lingkungan dan hasilnya memiliki nilai jual yang jauh lebih tinggi.

“Disamping juga hasil kainnya itu tidak mudah luntur, dibanding bahan dari sintetis,” kata Gusti Ayu Putu Windi Astari, Perajin tenun Kembar Sari, Jumat (15/7/2022).

Gusti Ayu menjelaskan, untuk warna alami itu terbuat dari bahan daun tumbuhan dan kulit batang pohon, seperti daun jambu, daun mangga, daun sawo, daun pohon ketapang dan daun indigo. Selain daun juga ada dari bahan kulit kayu mahoni, kayu bayur, kayu secang, kayu kutuh dan kunyit.

Setelah benang diwarnai, proses pertama mulai menyiapkan benang dan menggulungnya ke dalam bundar atau jangkar tempat benang. Jumlah benang sesuai dengan jumlah kain yang akan dibuat.

Proses pembuatan tenun cagcag cukup rumit, hanya yang berpengalaman bisa melakukan. Proses menyiapkan benang disebut rumit karena terdiri dari beberapa tahap. Ketika proses penggilingan benang selesai, dilanjutkan dengan penganyinan (mengukur benang) lalu proses penyuntikan.

Proses ini bertujuan untuk memasukan benang ke dalam sisir atau ke dalam serat dengan menggunakan lidi. Selanjutnya proses pengebuman. Butuh dua orang untuk memasukan benang ke dalam pandalan atau pengebuman, supaya benang tetap rapi dan tidak kusut atau semrawut.

BACA JUGA  Masyarakat Adat Kampung Cerekang Luwu Timur Menganggap Pisang Kepok Suci

Kemudian setelah pandalan sudah berisi benang, selanjutnya pandalan itu dimasukan ke dalam alat tenun cagcag. Lalu memulai proses membuat motif. Proses pembuatan motif ini sesuai dengan pesanan konsumen. “Apa yang diminta konsumen, motif apa yang diminta, kita menyesuaikan dengan permintaan,” jelasnya.

Setelah itu, barulah ke proses penenunan. Ini membutuhkan waktu bervariasi, sesuai dengan tingkat kesulitan motif yang dikerjakan. Proses menenun yang masih tradisional, dengan alat yang sebagian besar kayu mengeluarkan bunyi “cag cag”.

Bunyi inilah yang menjadi dasar atau alasan tenun Jembrana disebut tenun cagcag.

“Cagcag itu, konon karena alat yang digunakan untuk tenun itu suaranya cagcag, makanya disebut cagcag,” ungkapnya.

Berapa lama proses pembuatan tergantung dari tingkat kesulitan motif. Jika motif yang dibuat itu polos tidak terlalu sulit, waktu pengerjaannya rata rata sekitar 7 sampai 10 hari. Tapi untuk motif songket, yang lebih rumit, memerlukan waktu hingga 3 sampai 4 Minggu untuk satu lembar kain songket.

Ekspor ke Luar Negeri

Untuk pemasaran sendiri, menurut Gusti Ayu, sudah sempat ekspor ke luar negeri, kemudian ada ke Jakarta serta lokal Jembrana dan kabupaten lain di Bali. Tapi untuk produksi bahan alaminya sampai keluar Bali.

“Kebetulan kami juga ada pelanggan dan sampai sekarang pesanan itu tetap ada, sebelum pandemi kami kirim ke Australia. Baru baru ini, sempat kirim ke Amerika juga,” ungkapnya.

Sedangkan untuk harga bervariasi, mulai kisaran Rp 450 ribu sampai Rp 3,5 juta untuk produk tenun cagcag songket dan untuk harga kain endek dari harga Rp 300 ribu sampai Rp 500 ribu per lembar kain dengan ukuran panjang 2 meter.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Must Read

- Advertisement -

Hot News

Tragedi Kanjuruhan, Bintang Emon Singgung Tanggung Jawab Pihak Berwenang

Komika Bintang Emon menjadi salah satu dari sekian selebritis Tanah Air yang akui ikut merasa terpukul atas tragedi yang terjadi di Stadion Kanjuruhan, Malang,...

Gaya Hidup

5 Manfaat Masker Lemon untuk Wajah dan Cara Membuatnya

Masker lemon bisa menjadi salah satu pilihan masker alami untuk menjaga kesehatan kulit. Kandungan vitamin C yang tinggi membuat masker ini dipercaya dapat mencegah...

Peristiwa

Tragedi Kanjuruhan, Bocah 11 Tahun Ditinggal Orangtuanya Meninggal Terinjak

Pasangan suami istri (pasutri) bernama M Yulianto (40) dan Devi Ratna Sari (30) meninggal dalam tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang. Jenazah keduanya dimakamkan dalam...

Hukum

Naas! Pria di Bogor Jadi Korban Pembacokan OTK

RR, Seorang pria menjadi korban pembacokan oleh 3 orang tak dikenal (OTK) di Gunungputri, Kabupaten Bogor. Akibatnya, korban mengalami luka sabetan senjata tajam di...

Iklan3