Janda Baru Bermunculan di Lamongan Usai Idul Fitri 1443 H

Janda baru bermunculan usai Idul Fitri 1443 Hijriyah di Lamongan, kasus perceraian di daerah ini menunjukkan angka yang cukup tinggi.

Ada beberapa penyebab munculnya para janda baru di wilayah ini, salah satunya factor ekonomi dan mengakibatkan kasus perceraian tinggi.  Terhitung 22 hari setelah lebaran Idul Fitri, tercatat ada sebanyak 236 perceraian yang masuk di Pengadilan Agama (PA) Lamongan di jalan Panglima Sudirman.

“Pasca lebaran ada 236 perkara perceraian yang masuk di PA. Sedang perkara sebelumnya tersisa sebanyak 209 perkara, ” ujar Panitera Muda Hukum PA Lamongan, Mazir, Selasa (24/5/2022).

Dia mengatakan, PA juga berhasil memediasi sehingga ada yang mencabut perkara gugatannya sebanyak 20 orang. Total perkara mencapai 445 perkara. Dari beban perkara itu, 20 di antaranya dicabut dan 176 sudah diputus akibatnya ada sekitar 176 janda baru di wilayah ini.

Hingga saat ini masih ada sisa 249 perkara.

Pemicu munculnya janda baru ini, dari data di Pengadilan Agama (PA) Lamongan, adalah karena faktor ekonomi. Kondisi ekonomi lemah, bahkan yang tidak stabil ditengarai menjadi pemicu tingginya angka perceraian.

“Selama bulan Januari hingga 2 Mei 2022, tercatat ada 1.173 perkara yang masuk,” katanya.

Dari catatan yang ada di PA tingginya perceraian itu banyak dilakukan oleh para istri yang menggugat cerai.

Perkara perceraian di Lamongan ini didominasi oleh kasus isteri yang menggugat suaminya. Dan paling banyak penyebabnya adalah soal ekonomi.

Tapi ada juga karena cekcok, perselingkuhan kerena pihak ketiga. ” Hanya didominasi faktor ekonomi,” ujarnya.

Saat Ramadan kemarin, Mazir menjelaskan, perkara perceraian yang masuk sempat menurun. Ia menyebut, mungkin banyak masyarakat yang khusyuk beribadah, sehingga kalau ada masalah biasanya cenderung bisa meredam emosi.

BACA JUGA  Warganet Geram, Rara Pawang Hujan Sebut Putra Sulung Ridwan Kamil Sudah Meninggal

Termasuk ada yang menahan diri belum mengajukan perkara, karena pertimbangan bulan suci Ramadan.

“Namun setelah lebaran, warga yang punya masalah seolah kembali meluap tidak terbendung, tidak bisa dipertahankan. Finalnya ngajukan cerai,” ujarnya.

Dominannya faktor ekonomi sebagai penyebab perceraian di Lamongan, Mazir menanggapi bahwa hal itu akibat rentetan pandemi Covid-19 yang berdampak pada semua sendi kehidupan.

Akibat yang mencolok adalah terjadinya goncangan ekonomi yang membuat sejumlah pasangan tak mampu memenuhi kebutuhan rumah tangganya sehari-hari, dan ujung-ujungnya cerai.

Pernikahan yang dijalani dengan begitu sakral sudah seharusnya untuk memperkokoh rohani keluarga dan menghindari perceraian.

“Keluarga sakinah, mawaddah warohmah harus diperjuangkan melalui pengorbanan, upaya dan doa. Dengan harapan badai apapun tak menggoyahkan keutuhan rumah tangga,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Must Read

- Advertisement -

Hot News

Dihari Ulang Tahun Emmeril, Ataliya Praratya Posting Video Perjalanan Hidup Sang Putra

Tepat pada hari ini, Sabtu (25/6), mendiang Emmeril Kahn Mumtadz atau yang akrab disapa Eril berulang tahun yang ke-23. Tentunya ini menjadi yang pertama...

Gaya Hidup

Manfaat Totok Wajah untuk Mengobati Migrain dan Sinusitis

Migrain dan sinusitis tidak hanya bisa diobati dengan pengobatan medis, namun juga terbantu dengan terapi tradisional totok wajah. Simak cara melakukannya dan manfaatnya terhadap...

Peristiwa

Imbas Perubahan Nama Jalan, Ratusan Warga Kepulauan Seribu Bikin KTP Baru

Penetapan perubahan nama jalan yang ditetapkan  oleh Pemprov DKI Jakarta, imbasnya ada ratusan warga yang membuat kartu tanda penduduk (KTP) baru. "Di kami Kepulauan Seribu...

Hukum

Modus Pacaran, Remaja di Sibolga Setubuhi Gadis 15 Tahun Berulang Kali

Satuan Reskrim Polres Sibolga menangkap seorang remaja berinisial HM (17) atas dugaan tindak pidana pencabulan terhadap pacarnya, seorang gadis 15 tahun. Diketahui, remaja tersebut merupakan...